Archive for the 'Articles' Category

1 ONS BUKAN 100 GRAM.*

Friday, June 5th, 2009
1 ONS BUKAN 100 GRAM.* PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG. Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa  menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 Kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara Internasional tidak bisa ditemukan. SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN. Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba Menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas system takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia . Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound". Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan system takar-timbang legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus ** Indonesia **. Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ? BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ? Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan  bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin Bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi. TANGGUNG JAWAB SIAPA ? Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka; *"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/ diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa : **1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?* Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya system timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons *(Depdiknas) * = 100 gram Dan 1 pound * (Depdiknas) * = 500 gram.? Bagaimana "Ons dan Pound *(Depdiknas) *" ini dimasukkan dalam sistem metric yang sudah baku diseluruh dunia? Siapa yang mau pakai?. HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI. Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. . Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM  negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang Benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat. ACUAN MANA YANG BENAR? Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. *(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian/diary/ agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi. *Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/ avdp. (baca : averdupoiz). 1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)* 1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)* 1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)* Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (*ini hanya gambaran/ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)* KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?. Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta *rumus konversi yang benar*. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan/ menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini. LEMBAR PELENGKAP TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN *1799*. *Kuantitas* *Satuan* *Simbol* *Keterangan* Panjang meter m bukan mtr. Luas meter persegi m2 Isi/volume meter kubik m3 Berat gram g bukan gr. Takaran liter 1 l = 1000 cm3 (cc) Suhu/temperature derajat Celcius oC BEBERAPA SEBUTAN/AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK AWALAN FAKTOR PENGALI SIMBOL/SINGKATAN CONTOH PEMAKAIAN Giga 1.000.000.000 G GHz. Mega 1.000.000 M MW kilo 1.000 k km hecto 100 h ha deka 10 da dam deci 0,1 d dm centi 0,01 c cm milli 0,001 m ml micro 0,000.001 *m* mF dan seterusnya. Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran tanah yang diakui sah secara internasional. *Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam system metrik maupun non-metrik/imperial yang pernah diberlakukan sah secara internasional. *

Seberapa bergunakah Hidup Kita ? bagian 2

Tuesday, May 19th, 2009
Seberapa bergunakah Hidup Kita ? bagian 2
oleh: Muhammad Asrori, S.Kom
Bismillahirahmanirrahim.
pada bagian pertama lalu, saya mengisahkan tentang sangat bergunanya diri rosulullah bagi orang lain terutama bagi orang kafir sekalipun. pada kesempatan ini mari kita berfikir sejanak sebarapa lamakah sebenarnya waktu kita yang benar-benar efektif untuk hidup ?
coba kita perhatikan hitung-hitungan sederhana sebagai berikut :
1. sendainya umur kita 63 tahun (patokan umur rosulullah, kita umatnya paling gak jauh he...... ini hanya perkiraaan.
2. sehari 24 jam
3. setahun 365 hari
4. kita beristirahat (tidur) kira 8 jam sehari.
jadi perhitungannya sebagai berikut :
8(waktu tidur) x 365 hari = 2920 jam
2920:24 = 121,6 hari (dalam setahun waktu kita gunakan hanya untuk tidur)
121,6 : 30  = 4,05 bulan (dalam setahun waktu kita gunakan hanya untuk tidur)
kalau perkiraan umur kita 63 tahun :
4,05 bulan x 63 tahun = 255,15 bulan
255,15 : 12 = 21,3 tahun
dengan perhitungan seperti di atas jadi kita tahu seper empat hidup kita hanya digunakan untuk tidur!!!!! Subhanallah, waktu yang terbuang dengan sia-sia.
itu waktu hanya untuk tidur, terus waktu yang kita buat cangkuruan, makan, gosip dll. masya Allah tinggal berapa waktu kita utuk berbuat baik?
wahai saudaraku semua mari kita merenung sejenak, mari kita manfaatkan waktu yang sedikit ini untuk berbuat yang lebih baik. ayo kita atur sisa waktu kita yang tinggal sedikit ini agar hidup ini lebih ber makna.
ayo kita berusaha menjadikan diri kita agar selalu berguna dan bermanfaat untuk orang lain, sebagai mana yang telah dicontohkan oleh kekasih kita rosulullah Muhammad SAW.
Semoga Allah SWT memudahkan rezeki kita dan meringankan tangan kita untuk berbagi terhadap sesama Amin... Amin..... Amin yarobbal'alamin.

Seberapa Bergunanya diri kita ? (Bagian Pertama)

Tuesday, May 19th, 2009
Seberapa Bergunanya diri kita ?  (Bagian Pertama)
oleh : Muhammad Asrori, S.Kom
Assalamu'alaikum Warohmatullah Wabarukatuh
pernahkah kita berfikir dan merenung sejenak tentang hidup ini?
pernahkah kita berfikiran sudahkah kita berguna untuk oranglain?
pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sering muncul dan selalu menghiasi fikiran ku.
nabi rosulullah Muhammad SAW. orang yang paling kita cinta dalam kehidupanya selalu
memberikan contoh pada kita bahwa diri beliau sangat berguna bagi orang lain, bukan hanya kepada
orang-orang muslim bahkan kepada orang KAFIR sekalipun!!!.
seperti kisah yang diceritakan oleh sabat beliau sewaktu menjadi kholifah. beliau bertanya kepada ibunda Aisyah, Wahai Aisyah amalan apa yang pernah dilakukan oleh rosulullah yang belum pernah aku kerjakan? lalu Aisyah berkata Rosul setiap bagi selalu memberi makan kepada seorang pengemis  buta .
keesokan harinya sahabat rusulullah yang juga seorang kholifah itu pergi ke pasar untuk memberikan makan kepada penegemis itu. lalu si pengemis itu berkata siapa kamu? lalu sahabat nabi itu berkata aku orang yang biasa memberimu makan tiap hari. bukan, kau bukan orang yang memberiku makan setiap hari karena dia selalu menyuapiku, memahkan daging untukku.
lalu sahabat rasulullah itu berkata "Beliau Muhammad rosulullah Sudah Wafat pulang kerahmatullah".
dengan manangis pengemis itu berkata, sungguh mulia Muhammad rosulullah itu, aku setiap hari mencacimakinya, aku sangat membencinya tapi Beliau sangat sabar untuk menyuapiku makan setiap hari, Wahai sahabat rasulullah saksikanlah bahwasanya aku sekarang bersaksi Bahwa Tiada tuhan Selain ALLAH dan Muhammad SAW. adalah rosulullah.
bisa kita petik dari  cerita diatas bahwa rosulullah orang sangat berguna bagi orang lain.
nabi juga bernah bersabda " sebaik-baiknya manusia adalah orang yang sangat berguna bagi orang lain"
Semoga allah menjadikan hidup kita menjadi lebih bermakna dan berguna bagi orang lain dan semoga Allah memenuhi hati kita dengan rasa cinta, kasih sayang dan rasa berbagi terhadap sesama.
amin...... amin...... amin ya robbal 'alamin